CERPEN
PENGEMIS TUA
Karya : Angga Saputra Pratama
Saat hujan mulai menangis membasahi bumi, Tama sedang kehabisan bensin dan ia berhenti di POM pengisian bensin yang ada di daerah menteng. Tama dengan segera mengisikan bensin. “Berapa dik ?” tanya petugas “5 ribu aja bang”jawab tama dengan singkat. “owh ini dari enol yaa dek?” jawab petugas itu lagi. “iya bang.” Tegas tama. Lalu petugas itu menyarankan kepada Tama kalau mau berteduh bisa di musholla pembensin tersebut. Karena kebetulan waktu itu tiba waktu maghrib. Setelah itu Tama bergegas menuju musholla tersebut. Tama bergegas mengambil air wudlu dan menunaikan sholat di tempat itu.
Setelah selesai sholat Tama duduk di pinggir musholla tersebut sambil memegangi perutnya yang kosong dari tadi siang. Dia pun memutuskan untuk membeli roti di warung yang ada di dekat pembansin tersebut. “pak ada roti?” sahut Tama kepada penjual “ ada mas, ada yang itu ada yang stawberry, blueberry, mangga apel, jambu.” “pak mau jualan roti apa buah koq rasanya banyak banget?” sanggah tama. “maaf-maaf mas itu ada 3 rasa mau yang straawberry, coklat apa keju?”tanya penjual. “Yang keju aja pak, berapa itu?” tanya tama juga. “ Rp. 45000 aja mas.”jawab penjual sambil tama mengeluarkan uang 5000an yang selanjutnya dikasi kembalian 500 rupiah oleh penjual. Lalu tama berjalan menuju musholla lagi. Gak sengaja kembalian tadi jatuh, tapi Tama cuek aja seakan dibiarin jatuh gitu. “Mungkin cuman 500” yang ada di benaknya.
Selagi duduk sambil memakan roti Tama melihat ke arah sudut pengendara motor yang sedang mengisi bensin. Tak jauh dari situ seorang nenek tua mengadahkan tangan di dekat para pengendara motor untuk mencari baelas kasih mereka agar memberinya sedikit rejeki demi menyambung nyawa. Tama miris melihatnya betapa kasihannya nenek-nenek yang seharusnya cuman di rumah di urus oleh anak-anaknya yang mungkin sudah besar-besar. Dengan tangan bergetar pengemis tua tersebut mengadahkan tangan ke seseorang pengendara. “pak minta rejekinya pak?”tanya pengemis itu sambil mengadahkan tangan. Tapi apa yang di jawab oleh pengendara tersebut, dia seolah tidak mendengar apa yang diakatakan pengemis itu dan seakan tiddak ada orang yang bicara. Dengan acuh tak acuh dia pulang menuju jalan raya seakan tanpa dosa.
Setelah Tama tertegun melihat pengemis tua tadi, hati kecilnya mulai tergerak untuk menddekat ke arah pengemis tersebut. “Nek, udah makan?” tanya Tama pada pengemis tua. “Belum nak.”jawab pengemis. “Ini nek roti untuk mengganjal perut nenek. “ “makasih nak “ jawab pengemis tua tua tersebut. Tama bersyukur bisa membantu pengemis tua tersebut, seakan dia di ingatkan untuk menghargai semua yang kita miliki, meskipun itu hanya uang 500 perak. Kemudia dalam hati Tama bergumam “ Di dunia ini memang ada yang kaya dan miskin. Tidak ada orang miskin, orang kayapun tidak dapat dikatakan kaya. Semua pembanding tersebut seharusnya menjadikan kita lebih bersyukur bahwa semua yang kita miliki di dunia ini hanyalah barang fana yang tidak ada di alam sana nanti. “Kenapa semua ketidakadilan harus ada di dunia ini, kenapa, kenapa, dan kenapa?” dalam hati tama berpikir dan dan tidak dapat mendapat jawabannya sebelum bertemu pengemis tadi.








0 komentar:
Posting Komentar